Monday, 29 December 2014

Pelajaran dari Sepiring Nasi Goreng

Pagi itu saya memasak nasi goreng blue band kesukaan anak-anak. Menu ini termasuk kegemaran DOA (Dani-Ony-Ahya), tak ketinggalan si Papa juga ikut-ikutan menyukai nasgor buatan Mama ini.
Biasanya saya mendahulukan untuk anak-anak nasgor yang tidak pedas, baru setelah itu sisa nasi goreng di wajan saya campur dengan ulekan cabe merah untuk sensasi pedasnya. Yang ini porsi untuk suami dan saya sendiri.

Yang membuat beda pagi itu adalah sarapan saat liburan. Biasanya DOA sarapan dengan tergesa karena mau masuk sekolah, porsinya pun tidak banyak. Di saat liburan mereka sarapan dengan santai, dan kalau enak terkadang suka nambah. Saat itu saya sudah mengambilkan 3 porsi nasgor untuk DOA, tinggal ulek cabe merah saja untuk dioseng lagi di sisa nasi goreng yang masih di wajan.

Sebelum menambahkan cabe ke wajan saya colek mas Dani dan bilang, "Mas, nasi gorengnya nambah ndak?"
"Ya Ma.", jawab Mas Dani masih dengan matanya masih lengket di TV nonton film kartun.
"Ayo buruan kesini, keburu Mama kasih cabe lho!", teriak saya dari dapur.
"Ya Ma.", lagi-lagi jawab mas Dani tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduknya.

Ya sudah, akhirnya saya masukkan ulekan cabe ke nasi goreng yang masih di wajan untuk dioseng lagi. Yummy! Jadilah nasi goreng yang pedesnya mantap.

Tidak lama kemudian mas Dani datang ke dapur dan mencari nasi goreng yang tidak pedas.
"Wah, telat Mas. Cabenya sudah Mama masukkan dari tadi.", kata saya.
"Yaa...berarti tinggal yang pedes dong?", jawab Mas Dani sedikit kecewa.

*****
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita sederhana di atas?
Kesempatan itu hanya datang sekali. Jika itu memang peluang yang baik, segera lari dan ambil, jangan sampai kesempatan itu hilang dan tidak akan pernah kembali lagi.

Pelajaran dari sepiring nasi goreng.
*****