Friday, 24 August 2018

Daun Kecubung yang Menyembuhkan

Kesehatan merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Bayangkan saat kita sakit, rasanya mau makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Saat satu bagian kecil tubuh kita sakit, rasanya seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakannya. 

Kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman saya, yaitu ketika adik Ahya berumur 6 bulan. Saat itu tahun 2007 dan kami tinggal di Mojokerto.

Diawali ketika memandikan Adik Ai (Ahya) dan akan memakaikan baju, saya merasakan ada benjolan kecil di perut sebelah kiri. Setiap habis mandi, ketika saya usap perutnya menggunakan minyak kayu putih, benjolan keras itu semakin lama semakin membesar sampai kurang lebih sebesar telur bebek.

Ketika di USG ternyata benjolan itu adalah usus yang saling menarik sehingga menyebabkan usus yang satu menali usus yang lain, sehingga membentuk simpul (mbulet -bhs Jawa-). Satu-satunya solusi adalah tindakan medis, yaitu operasi pemotongan usus tadi. Karena jika dibiarkan bagian usus yang tersimpul tadi lama kelamaan akan membusuk. Untuk kondisi sehari-hari normal, Adik terlihat fine-fine saja. Badannya juga gendut lucu, hanya saja saat makan atau minum sering muntah.

Singkat cerita kami lebih nemilih pengobatan alternatif daripada tindakan medis, yaitu pijat dan penggunaan obat herbal. Dengan pertimbangan jika harus dibedah kami tidak tega, karena adik Ai masih sangat kecil. 

Sampailah kami ke rumah bu Biratin, seorang ibu sekaligus seorang tabib yang ternyata pernah belajar obat-obatan herbal dari pedalaman Kalimantan. Beliau tinggal di Tulungagung. Hal ini juga karena salah satu tetangga saya disembuhkan oleh Beliau, padahal  tetangga saya ini sakit batu ginjal dan harus segera melakukan operasi. Pengobatannya adalah dengan cara dipijat, kemudian diberi obat-obatan dimana kita harus mencari atau membuat ramuan itu sendiri. Misalnya disuruh makan empedu ikan hiu, empedu kambing, atau obat-obatan herbal seperti daun-daunan, bunga dan akar-akaran.

Nah, akhirnya kami lebih memilih untuk berikhtiar dengan obat-obatan herbal ini. Pada saat itu bu Biratin bilang bahwa semua ini ikhtiar, Allah lah yang menyembuhkan. Setelah si Adik dipijat kami diberi resep yaitu daun bunga kecubung berwarna ungu yang diremas kemudian ditempelkan ke perut yang ada benjolannya. Hal ini dilakukan setiap malam sebelum tidur.

Saat itu belum bisa dipastikan pengobatan bisa dilanjutkan. Masih harus dilihat dulu efek pertama dari penggunaan daun kecubung ini. Jika ketika bangun pagi remasan daun kecubung tadi menjadi kering, itu pertanda bahwa cairannya bisa diserap tubuh, maka pengobatan bisa dilanjutkan. Akan tetapi jika remasan daunnya masih basah, maka pengobatan harus dihentikan, dan tindakan medis harus dilakukan, yaitu memotong usus Adik Ai melalui operasi.

Alhamdulillah ternyata ketika Adik bangun pagi remasan daun kecubung yang ditempel di perutnya kering. Itu artinya pengobatan bisa dilanjutkan kembali.

Daun Kecubung Ungu, Manfaat Daun Kecubung Ungu, Khasiat Daun Kecubung Ungu
Daun Kecubung Bunga Ungu
Sumber:  https://www.khasiat.co.id/daun/kecubung-ungu.html

Singkat cerita saya melakukan ritual menempel remasan daun kecubung ini dengan sepenuh hati. Tidak pernah terbit di hati saya pertanyaan, sampai kapan ya Allah? Big NO. Dengan telaten saya melakukannya setiap malam saat Adik mau tidur. Dengan keyakinan yang penuh dan doa yang tiada henti saya melakukan ikhtiar ini.


Sulitkah Mencari Daun Kecubung Bunga Ungu ini?

Jawabannya IYA.
Karena ternyata bunga kecubung yang tumbuh di sekitar rumah orangtua saya di Tulungagung bunganya berwarna putih semua. Dan di tempat tinggal saya di Mojokerto, notabene di sepanjang pinggir sungai Brantas bunganya berwarna putih semua.

Ternyata satu-satunya yang punya tanaman ini adalah tetangga saya di Tulungagung. Dan dengan sukarela si pemilik membolehkan saya mengambil daunnya dengan gratis. Ya Allah terima kasih.


Karena mendapatkannya harus di Tulungagung padahal saat itu saya tinggal dan bekerja di Mojokerto, maka saya menyimpan daun kecubung itu di kulkas, dengan cara menyimpannya per lembar di atas kertas hvs putih. Benar-benar seperti harta karun saya memperlakukannya saat itu.


Saat persediaan habis, saya tinggal telepon Ibu saya, maka datang lah Beliau ke Mojokerto dengan naik kereta api. Saat itu Beliau masih aktif menjadi guru.

Begitu juga ketika kami bepergian ke Jogja atau kemana pun. Daun Kecubung itu tidak pernah sekalipun ketinggalan. Dan si Adik sendiri juga merasa enjoy, tidak pernah rewel, bahkan dengan sukacita pasrah jika sudah waktunya menempelkan remasan daun di perutnya.



Akhirnya Sebuah Doa Terjawab

Semua usaha yang kami lakukan tentu saja diiringi dengan doa dan harapan kepada Allah SWT untuk kesembuhan Adik Ai. Dan, tepat 1 (satu)tahun pengobatan yang tiada henti, usus yang saling menyimpul lepas sempurna. Subhanallah. Allahu Akbar.

Benjolan itu sekarang sudah hilang. Untuk menjadi sempurna memang membutuhkan waktu. Untuk menormalkan kembali, Bu Biratin menyuruh saya untuk memijit perut Adik dengan Minyak Ban Len Tjeng. Kadang kalau perut si Adik diraba masih terasa bunyi aneh, seperti suara krucuk-krucuk. Tapi seiring dengan waktu akhirnya bisa sembuh sempurna. Alhamdulillah sekarang Adik Ai sudah berumur 11,5 tahun. Sudah kelas 6 SD. Dan benjolan itu sudah benar-benar hilang.


Akhirnya inilah hasil dari ikhtiar dan doa yang diijabah. Semoga artikel ini bermanfaat.

Siapa saja yang sakit jangan sampai putus asa, karena putus asa itu sangat dibenci Tuhan. Ayo semangat yaa Teman-teman.


*********

------------------------------------
Tulisan pertama di tahun 2018.
Akhirnya saya bersemangat menulis kembali.
Salam Blogger!
*********

No comments:

Post a Comment

Yuuk saling berbagi.
Saya menunggu komentar dan saran dari Teman-teman.
Please, komen yang baik.
Be humble and adorable.
Terima kasih.